Tata Cara Sholat Idul fitri
●●Tata cara Shalat Hari Raya Idul Fitri●●
▪_¤Hukum Shalat ‘Ied Hari Raya
Hukumnya adalah sunnah muakkad
▪_¤Waktu Shalat ‘Ied Hari Raya
Para ulama mengatakan bahwa waktunya dimulai dari terbitnya matahari sampai matahari tergelincir, berkata An-Nawawi:
ووقتها ما بين طلوع الشمس إلى ان تزول والافضل ان يؤخرها حتى ترتفع الشمس قيد رمح
“Waktu sholat ‘ied adalah antara terbitnya matahari sampai tergelincir, dan yang lebih utama adalah mengakhirkannya hingga matahari meninggi setinggi tombak."
Dan disunnahkan mengakhirkan shalat idul fitri dan menyegerakan shalat idul adha, berkata Ibnu Qudamah:
وَيُسَنُّ تَقْدِيمُ الْأَضْحَى؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ التَّضْحِيَةِ، وَتَأْخِيرُ الْفِطْرِ؛ لِيَتَّسِعَ وَقْتُ إخْرَاجِ صَدَقَةِ الْفِطْرِ. وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيِّ، وَلَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا
“Disunnahkan untuk menyegerakan shalat idul adha agar waktu menyembelih lebih luas, dan disunnahkan mengakhirkan shalat idul fitri untuk meluangkan waktu pengeluaran zakat fitroh.
Shalat ‘ied dua raka’at berdasarkan kesepakatan para ulama. Tata cara yang mencukupi adalah seperti tata cara shalat-shalat yang lain,
sunnah-sunnahnya dan gerakan-gerakannya.”
●》1.Memulai dengan takbiratul ihrom,
●》2.membaca istiftah sebagaimana shalat-shalat lainnya
●》3.Kemudian bertakbir zawaid (takbir tambahan)
[_sebanyak 7 takbir selain takbiratul ihrom untuk raka’at pertama, dan 5 takbir selain takbirotul intiqol pada raka’at kedua sebelum memulai membaca Al Fatihah_]
_*Sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya:
«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ، اثْنَتَيْ عَشْرَةَ تَكْبِيرَةً، سَبْعًا فِي الْأُولَى، وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ، سِوَى تَكْبِيرَتَيِ الصَّلَاةِ»
“Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bertakbir pada shalat dua hari raya sebanyak 12 kali takbir; 7 kali takbir di raka’at pertama, dan 5 takbir pada raka’at kedua, selain 2 takbir shalat (takbirotal ihrom dan takbirotul intiqal).”
{_Hukum takbir tambahan ini bukanlah wajib melainkan sunnah tidak membatalkan shalat jika meninggalkannya secara sengaja maupun lupa.”_}
takbir tambahan ini terletak antara istiftah dan ta’awwudz:
مذهبنا أن التكبيرات الزَّوَائِدَ تَكُونُ بَيْنَ دُعَاءِ الِاسْتِفْتَاحِ وَالتَّعَوُّذِ وَبِهِ قَالَ الْعُلَمَاءُ كَافَّةً
“Madzhab kami (Syafi’iyyah): Takbir tambahan terletak antara do’a istiftah dan ta’awwudz, ini adalah pendapat ulama secara keseluruhan.”
{_Disunnahkan Mengangkat Tangan Setiap Kali Takbir_}
Apakah ada dzikir tertentu di sela-sela takbir tersebut?
Tidak ada bacaan antara dua takbir.
Ibnu Qudamah menukilkan pendapat mereka:
وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ، وَمَالِكٌ، وَالْأَوْزَاعِيُّ: يُكَبِّرُ مُتَوَالِيًا، لَا ذِكْرَ بَيْنَهُ، لِأَنَّهُ لَوْ كَانَ بَيْنَهُ ذِكْرٌ مَشْرُوعٌ لَنُقِلَ، كَمَا نُقِلَ التَّكْبِيرُ، وَلِأَنَّهُ ذِكْرٌ مِنْ جِنْسٍ مَسْنُونٍ، فَكَانَ مُتَوَالِيًا، كَالتَّسْبِيحِ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.
“Abu Hanifah, Malik, dan Al-Auza’i berpendapat: Bertakbir terus menerus dan tidak ada dzikir di antara keduanya, karena seandainya di antara keduanya ada dzikir yang di syari’atkan tentunya akan dinukilkan, sebagaimana dinukilkannya takbir, dan karena takbir adalah dzikir yang termasuk jenis yang disunnahkan, maka dilakukan terus menerus sebagaimana tasbih ketika ruku’ dan sujud.” (Al-Mughni 2/284)
Beliau berkata:
وقال بعض العلماء: يكبّر بدون أن يذكر بينهما ذكراً. وهذا أقرب للصواب، والأمر في هذا واسع، إن ذكر ذكراً فهو على خير، وإن كبّر بدون ذكر، فهو على خير
“Sebagian ulama mengatakan: bertakbir tanpa berdzikir di antara keduanya. Dan ini lebih dekat kepada kebenaran, dan perkara dalam permasalahan ini luas, jika seseorang berdzikir di antara keduanya maka ia di atas kebaikan, dan jika bertakbir tanpa berdzikir maka ia di atas kebaikan.” (Asy-Syarhu Al-Mumti’ 5/139-140)
Syaikh Utsaimin condong kepada pendapat yang mengatakan tidak ada dzikir di antara keduanya, namun beliau tetap mengatakan orang yang berdzikir di antara dua takbir berada di atas kebaikan
●》4.Kemudian membaca Ta’awwudz lalu Al Fatihah, dilanjutkan dengan membaca surat lainnya.
membaca surat Al A’laa pada raka’at pertama dan surat Al Ghosiyah pada raka’at kedua. Dari An-Nu’man bin Basyir, Nabi ﷺ bersabda:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقْرَأُ فِى الْعِيدَيْنِ وَفِى الْجُمُعَةِ بِ (سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى) وَ (هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ) قَالَ وَإِذَا اجْتَمَعَ الْعِيدُ وَالْجُمُعَةُ فِى يَوْمٍ وَاحِدٍ يَقْرَأُ بِهِمَا أَيْضًا فِى الصَّلاَتَيْنِ.
“Rasulullah ﷺ biasa membaca dalam shalat ‘ied maupun shalat Jum’at “Sabbihisma robbikal a’la” (surat Al A’laa) dan “Hal ataka haditsul ghosiyah” (surat Al Ghosiyah).” An-Nu’man bin Basyir mengatakan begitu pula ketika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, beliau membaca kedua surat tersebut di masing-masing shalat.
(HR. Muslim 2/598 no. 878)
●》5.Setelah membaca surat, kemudian melakukan gerakan shalat seperti biasa (ruku, i’tidal, sujud,)
●》6.Bertakbir ketika bangkit untuk mengerjakan raka’at kedua.
Kemudian bertakbir (takbir zawaid/tambahan) sebanyak 5 kali takbir selain takbir bangkit dari sujud sebelum memulai membaca Al Fatihah.
Kemudian membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas. Mengerjakan gerakan lainnya hingga salam
●》7.Khutbah Shalat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha
Disyariatkan untuk berkhutbah untuk shalat hari raya, dilakukan setelah mengerjakan shalat ‘ied. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas:
شَهِدْتُ الصَّلاَةَ يَوْمَ الفِطْرِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ فَكُلُّهُمْ يُصَلِّيهَا قَبْلَ الخُطْبَةِ
“Aku menyaksikan shalat idul fitri bersama Rasulullah ﷺ, dan abu bakar, Umar, dan ‘Utsman, dan mereka semua shalat sebelum khutbah.”
(HR. Bukhori no. 4895, Muslim no. 884)
Dan hukum khutbah ini sunnah sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah Bin As-Saib:
شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ، فَلَمَّا صَلَّى قَالَ: ” إِنَّا نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَلْيَرْجِعْ “
“Aku menyaksikan hari raya bersama Rasulullah ﷺ, setelah selesai shalat beliau berkata: Kami akan berkhutbah, barangsiapa yang suka untuk duduk mendengarkan khutbah maka duduklah, dan barangsiapa yang suka untuk kembali maka silahkan kembali.”
(Syarh Musykil Al-Aatsaar no. 3740)
Seandainya wajib maka Nabi tidak akan memberikan pilihan untuk meninggalkannya bagi yang mau. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya sebagaimana yang dikatakan Imam Nawawi. Beliau berkata: “Disunnahkan ketika selesai dari shalat untuk berkhutbah.”
(Al-Majmu’ syarhul muhadzdzab 5/21)
#Ushulussunnah
#Sholat ‘Ied Hari Raya _Fitri_
Komentar
Posting Komentar