Pribadi Muslim

 ●> Sikap Seorang Mukmin 

         Kepribadian yang Mulia <●

 Perhatikan 3 Hadits ini dalam kehidupan mu    

1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,


مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ


“Di antara kebaikan islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR. Tirmidzi no. 2317, Ibnu Majah no. 3976. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).


Hadits ini mengandung makna bahwa di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baik berupa perkataan atau perbuatan. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 288)


Baik islam nya Baik pula Akhiratnya dengan cara meninggalkan Apa saja yang tidak bermanfaat bagi Dunia dan Akhiratnya 

●>Yang dia fikirkan 

-Hak Allah -Hak Rasulullahﷺ, -Hak Diri -Hak orang yang dia tanggung -Hak tetangganya -Hak Manusia secara umum

Semua itu meliputi Kewajiban nya dan Tanggungjawabnya 

》Sebagai Hamba Allahﷻ 

》Umat Nabi muhammad ﷺ

》Suami (Pemimpin rumah tangga)

》Pemimpin dirinya sendiri 

Yang paling utama adalah Hak Allahﷻ yang harus dia penuhi  kewajiban nya sebagai makhluk yang di berikan Nikmat dan beban Syari'at dan Dia mengaku sebagai Hamba Allah ﷻ

__Sikap seorang Hamba Allahﷻ___

-Melaksanakan Segala Apa yang di perintahkan

-Meninggalkan Segala Apa yang di larang 

-Mentauhidkan Allahﷻ dan menjauhi Syirik dan pelakunya

-Sikapnya, Mendengar dan Taat (Berilmu sebelum beramal)

-Berbicara tentang Agama Allahﷻ tanpa Ilmu

-Tidak berbohong atas nama Allah dan Rasulnya

-Tidak mendahului Allahﷻ dan Rasulnya (Perkataan dan perbuatan dalam agama Islam) #berjalan di belakang perintah perintah Allah ﷻdan mengikuti Sunnah nabi muhammadﷺ dalam semua hal. 

-Tidak membuat Syari'at yang baru dalam Agama Allahﷻ "Islam" 


#Jangan mencari yang mustahil dengan membuang yang pasti " Mencari Keridhoan semua manusia itu suatu yang mustahil dan mencari keridhoan Allahﷻ itu suatu yang Pasti bisa bagi siapa saja yang berusaha untuk mencarinya" 

●Keridhoan Allah ﷻmemiliki Barometer (At-Taubah :100)

●Keridhoan Manusia tidak memiliki Barometer 

(Karna manusia memiliki Akal yang berkembang dengan Ilmu dan pengalaman yang berbeda beda dan manusia memiliki Hati yang berbeda, ada yang berpenyakit ada yang Sehat dan ada yang sudah mati hatinya


2.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ  :      مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : "barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir (kebangkitan,Akhirat,Kiamat) Hendaklah dia berkata baik atau diam.....(Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6475 dan Muslim dalam kitab Shahihnya no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


“Seorang muslim (yang baik) adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40).

_Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Hendaklah ia berkata baik atau diam”.Ini Adalah perintah untuk berkata baik dan diam dari perkataan yang tidak baik atau sia-sia. Jadi, adakalanya perkataan itu baik sehingga diperintahkan diucapkan. Dan adakalanya perkataan itu tidak baik dan sia-sia, sehingga diperintahkan untuk diam darinya


_Lisan disebutkan terlebih dahulu dari Tangan Kenapa ? 

●>Lisan lebih berat di bandingkan tangan 

 ¤ -Jarak tempuh lisan sangat luas dan jauh 

 ¤-Sedangkan tangan tidak luas dan jauh cuma bisa berbuat apa yang ada di sekitarnya saja 

 ¤- Lisan memiliki senjata yang tidak pernah ia lepaskan yaitu "Perkataan" Sedangkan tangan harus mengambil senjatanya dari senjata senjata dunia, itu pun senjata tidak mungkin terangkat kalau tidak di perintahkan oleh lisannya penguasa (Jihad harus dengan izin pemimpin) 

¤-Lisan dapat menembus hati sanubari manusia yang sangat dalam dan tidak ada satupun alat yang bisa mengukur kedalamanNya, Tapi ada satu alat yang bisa menyelaminya yaitu Lisan, Sedangkan Tangan tidak mampu melakukannya

¤-Lisan Cermin bagi Hati yang Kotor

¤-Berkata Ibnu Rajab rahimahullah, “Mayoritas perkara yang tidak bermanfaat muncul dari lisan yaitu lisan yang tidak dijaga dan sibuk dengan perkataan sia-sia” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1: 290).

●>>Zaman Sekarang Lisan dan Tangan bersatu yaitu dengan menulis <<●

Menulis/Tulisan itu hukum nya sama dengan Ucapan Lisan

Apabila Baik maka Berpahala Apabila buruk maka Berdosa


》Sikap Seorang Mukmin dia berhati hati dalam berbicara karna dia meyakini bahwa 

Allah Ta’ala berfirman: مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).              [Qâf/50:18].


Allah Ta’ala berfirman,


وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (16) إِذْ يَتَلَقَّى الْمُتَلَقِّيَانِ عَنِ الْيَمِينِ وَعَنِ الشِّمَالِ قَعِيدٌ (17) مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (18)


“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS. Qaaf: 16-18). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Yang dicatat adalah setiap perkataan yang baik atau buruk. Sampai pula perkataan “aku makan, aku minum, aku pergi, aku datang, sampai aku melihat, semuanya dicatat. Ketika hari Kamis, perkataan dan amalan tersebut akan dihadapkan kepada Allahﷻ” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 13: 187).


_■Seorang Muslim menjaga lisannya karna dia di perintahkan untuk Bertakwa kepada Allah dalam perkataan Lisan nya_■


Allah berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]


■_Hadits-Hadits Tentang Lisan_■


》Dalam Shahîhain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيْهَا يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ. Sesungguhnya seseorang mengucapkan kata-kata yang tidak ia teliti kebenarannya, ucapannya itu menyebabkannya tergelincir di neraka lebih jauh dari pada jauhnya antara timur dan barat.[ Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6477), Muslim (no. 2988), Ibnu Hibban (no. 5677-at-Ta’lîqâtul-Hisân), dan al-Baihaqi (VIII/164).


 Dalam Shahîh al-Bukhâri disebutkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا يَرْفَعُ اللهُ بِهَا دَرَجَاتٍ ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ. Sesungguhnya seseorang mengatakan satu kalimat yang diridhai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya, melainkan Allah akan mengangkatnya beberapa derajat. Sesungguhnya seorang hamba mengatakan kalimat yang dimurkai Allah dan ia tidak menaruh perhatian terhadapnya melainkan ia terjerumus dengan sebab kalimat itu ke Jahannam.[ Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6478) dan al-Baihaqi (VIII/165).


 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:       إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ فِيْ لِسَانِهِ. Sesungguhnya kesalahan anak Adam yang paling banyak terletak pada lisannya.[Hasan. HR Ibnu Abid Dunya dalam Kitâbush-Shamt (no. 18) dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul- Kabîr (no. 10446).


》Dalam hadits Al Husain bin ‘Ali disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ قِلَّةَ الْكَلاَمِ فِيمَا لاَ يَعْنِيهِ


“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah mengurangi berbicara dalam hal yang tidak bermanfaat” (HR. Ahmad 1: 201. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dengan adanya syawahid –penguat-).


》Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. 

إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُم ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا فَيَرضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ سَيْئًا وَأَنْ تَعتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّ قُواوَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَشْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ 

“Sesungguhnya Allah ﷻmeridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga pula. Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya dan janganlah kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian bila kalian suka qila wa qala (berkata tanpa berdasar), banyak bertanya (yang tidak berfaedah) serta menyia-nyiakan harta”


》Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya hadits no. 6474 dari Sahl bin Sa’id bahwa Rasulullah bersabda. مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ “Barangsiapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga” Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.


》Muslim meriwayatkan sebuah hadits dalam kitab Shahihnya no. 2581 dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda. أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوْاالْمُفْلِسُ فِيْنَا يَا رَسُو لَ اللَّهِ مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ قَالَ رَسُو لَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُفْلِسُ مِنْ أُمَّيِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَتِهِ وًِصِيَامِهِ وِزَكَاتِهِ وَيَأتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَاَكَلاَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَيَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُحِذَ مِنْ خَطَايَاهُم فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرحَ فِي النَّارِ 

“Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut ? Para sahabat pun menjawab, ‘Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki uang dirham maupun harta benda. ‘Beliau menimpali, ‘Sesungguhnya orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa dan zakat, akan tetapi, ia juga datang membawa dosa berupa perbuatan mencela, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain. Kelak kebaikan-kebaikannya akan diberikan kepada orang yang terzalimi. Apabila amalan kebaikannya sudah habis diberikan sementara belum selesai pembalasan tindak kezalimannya, maka diambillah dosa-dosa yang terzalimi itu, lalu diberikan kepadanya. Kemudian dia pun dicampakkan ke dalam neraka”.


》Muslim meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dalam kitab Shahihnya no. 2564 dari Abu Hurairah, yang akhirnya berbunyi. 

بِحَسْبِ امْرِيْ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسلِمَ كُلٌ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ

 “Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika sampai menghina saudaranya sesama muslim. Seorang muslim wajib manjaga darah, harta dan kehormatan orang muslim lainnya”


》Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


المسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ


“Seorang muslim yang sejati adalah dimana orang-orang Islam yang lain selamat dari keburukan lisannya.” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )


》أَكْثَرُ مَا يَدْخُلُ النَّارَ مِنَ النَّاسِ الْأَجْوَفَانِ


“Hal yang paling banyak memasukkan orang ke dalam api neraka adalah dua lubang (kemaluan dan mulut)"


■__Perkataan Para Ulama' Salaf dan Khalaf_■


》Abu Ishaq Al Khowwash berkata,


إن الله يحب ثلاثة ويبغض ثلاثة ، فأما ما يحب : فقلة الأكل ، وقلة النوم ، وقلة الكلام ، وأما ما يبغض : فكثرة الكلام ، وكثرة الأكل ، وكثرة النوم


“Sesungguhnya Allah mencintai tiga hal dan membenci tiga hal. Perkara yang dicintai adalah sedikit makan, sedikit tidur dan sedikit bicara. Sedangkan perkara yang dibenci adalah banyak bicara, banyak makan dan banyak tidur” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 5: 48).


》“Imam Syafi’i menjelaskan bahwa maksud hadits ini

"وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

 “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

 adalah apabila seseorang hendak berkata hendaklah ia berpikir terlebih dahulu. Jika diperkirakan perkataannya tidak akan membawa mudharat, maka silahkan dia berbicara. Akan tetapi, jika diperkirakan perkataannya itu akan membawa mudharat atau ragu apakah membawa mudharat atau tidak, maka hendaknya dia tidak usah berbicara”. Sebagian ulama berkata, “Seandainya kalian yang membelikan kertas untuk para malaikat yang mencatat amal kalian, niscaya kalian akan lebih banyak diam daripada berbicara”.


》Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 45, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. "Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.

Beliau berkata pula di hal. 47 

“Orang yang berakal seharusnya lebih banyak mempergunakan kedua telinganya daripada mulutnya. Dia perlu menyadari bahwa dia diberi telinga dua buah, sedangkan diberi mulut hanya satu adalah supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara.Beliau menambahkan di hal. 49, “Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

__¤Seringkali orang menyesal di kemudian hari karena perkataan yang diucapkannya, sementara diamnya tidak akan pernah membawa penyesalan.__¤_menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan adalah lebih mudah dari pada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan__.¤


》wasiat Nabi kepada Muadz yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2616 yang sekaligus dia komentari sebagai hadits yang hasan shahih. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda.

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَ مَنَا خِرِهِِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ


 “Bukankah tidak ada yang menjerumuskan orang ke dalam

 neraka selain buah lisannya ?” Perkataan Nabi di atas adalah sebagai jawaban atas pertanyaan Mu’adz. يَا نَبِّيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَا خَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ “Wahai Nabi Allah, apakah kita kelak akan dihisab atas apa yang kita katakan ?”

●Al-Hafidz Ibnu Rajab mengomentari hadits ini dalam kitab Jami’ Al-Ulum wa Al-Hikam, “Yang dimaksud dengan buah lisannya adalah balasan dan siksaan dari perkataan-perkataannya yang haram. Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia sedang menanam kebaikan atau keburukan dengan perkataan dan amal perbuatannya. Kemudian pada hari kiamat kelak dia akan menuai apa yang dia tanam.


__Barangsiapa yang menanam sesuatu yang baik dari ucapannya maupun perbuatan, maka dia akan menunai kemuliaan. Sebaliknya, barangsiapa yang menanam Sesuatu yang jelek dari ucapan maupun perbuatan maka kelak akan menuai penyesalan”.

__barangsiapa yang mampu menguasai lisannya maka sesungguhnya dia telah mampu menguasai, mengontrol dan mengatur semua urusannya”.


》Yunus bin Ubaid, “ Seseorang yang menganggap bahwa lisannya bisa membawa bencana sering saya dapati baik amalan-amalannya”.


》Yahya bin Abi Katsir pernah berkata, “Seseorang yang baik perkataannya dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya, dan orang yang jelek perkataannya pun dapat aku lihat dari amal-amal perbuatannya”.


》Atho bin Abi Rabah

Muhammad bin Suuqah menceritakan kepada jama’ah yang mengunjungi beliau: “ maukah Aku ceritakan kepada kalian sesuatu yang mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kalian sebagaimana kami telah mendapatkan manfaat karenanya? Mereka berkata: Mau. “ Beliau berkata: “ Suatu hari Atha’Bin Abi Rabah menasehatiku, Wahai putra saudaraku, sesungguhnya orang-orang sebelum kita (yakni para sahabat) tidak menyukai banyak bicara. Lalu aku katakana: “ Apa yang dianggap bicara menurut mereka?” Beliau menjawab: “ Mereka menganggap bahwa setiap ucapan termasuk berlebih lebihan melainkan dalam rangka dalam membca kitab dan memahaminya, atau membaca hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan yang harus di ketahui, atau memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau berbicara ilmu yang dengannya termasuk taqarrub kepada Allah Ta’ala, atau engkau membicarakan tentang kebutuhan dan pekerjaan yang memang harus dibicarakan. “lalu beliau memperhatikan raut wajahku saraya berkata: “ Apakah kalian mengingkari firman Allah ta’ala

وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ ١٠ كِرَامٗا كَٰتِبِينَ ١١


Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu) 11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu)


إِذۡ يَتَلَقَّى ٱلۡمُتَلَقِّيَانِ عَنِ ٱلۡيَمِينِ وَعَنِ ٱلشِّمَالِ قَعِيدٞ ١٧ مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ ١٨ 

(yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri 18. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir

Kemudiian beliau berkata: Tidaklah salah seorang diantara kita merasa malu manakala dibukakan lembaran catatan amal yang di kerjakan sepanjang siang, lalu dia mendapatkan di dalamnya sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan urusan agama maupun kepentingan dunianya.


》Abdullah bin mas’ud Radhiyallhau Anhu berkata:

“ Seyogyanya penghafal Al-Qur’an … menangis ketika manusia tertawa, diam ketika manusia berbicara tidak karuan. Penghafal al-qur’an seharusnya banyak menangis, bersedih, santun, bijak, dan banyak diam. Tidak sepantasanya penghafal al-qur’an gemar berteriak-teriak dan suka marah-marah.

“ Demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak di ibadahi selai Dia, tidak ada dia atas muka bumi ini yang lebih perlu untuk lama di penjara daripada lisan 


》Salman Al-farisi Radiyalahu Anhu berkata:

“ Ada 3 tipe orang yang meembuatku terheran-heran hingga membuatku tertawa, satu diantaranya adalah orang yang tertawa ria padahal dia tidak tahu apakah Rabb semesta alam murka atau ridha kepadanya.


》Abu Darda radhiyallahu Anhu berkata

“ Sesungguhnya orang-orang yang lisannya senantiasa basah lantaran mengingat Allah Subhanahu wata’ala, salah seorang diantara mereka memasuki surga sambil tertawa. Sebaik-baik tempat ibadah seorang muslim adalah rumahnya, dimana dia menahan lisan, kemaluan, dan pandangannya. Jauhilah tempat duduk di pasar karena ia melalaikan dan sia-sia.


》Urwah bin Zubair Rahimahullah ( Tabiin Madinah, w 94 H)

“Betapa banyak aku menahan diri untuk mengucapkan sebuah kalimat yang hina, kemudian hal itu mewariskan kemuliaan yang berkepanjangan”


》Abu Hazim Salamah bin Dinar Rahimahullah berkata:

“Hendaknya seorang muslim itu lebih berhati-hati dalam menjaga lisannya daripada kehati-hatiannya dalam melangkahkan kedua telapak kakinya”


》Wuhaib bin ward bin abul ward Rahimahullah (Tabi’ul Atba w 153H)

“ Baranga siapa yang menganggap perkataannya termasuk bagian dari amalnya, niscaya dia akan sedikit bicara.”


》Thawus bin kaisan Rahimahullah (Tabi’in Yaman, w 106 H)

“ Tidak ada satu ucapan pun yang terucap dari anak Adam kecuali akan dicatat, bahkan dicatat pula rintihannya ketika sakit”


》Ibrahim bin Yazid bin Syarik at-Taimi rahimahullah (tabiin kufah w.192 H)

“ Dari abu Hayyan, Ibrahim At Taimi Rahimahullah berkata, “ Apabila aku mempertimbangkan antara amalanku dan ucapanku, aku merasa khawatir kalau-kalau aku telah menjadi pendusta”


》Malik bin Dinar Rahimahullah (Tabi’in, Bashrah, w 131 H)

Sa’id bin isham berkata, aku mendengar Malik bin dinar Rahimahullah berkata:

“Orang-orang yang gemar berbuat kebaikan biasa berwasiat dengan tiga hal: memenjarakan lisan, memperbanyak istighfar, dan uzlah (mengasingkan diri)


》Yunus bin Ubaid Rahimahullah ( Tabi’in basrah w 139 H)

“ Sesungguhnya kamu akan mengetahui kewara’an seorang laki-laki dari ucapannya"


》_Amr Bin Al Ash Dalam Rabiul Abraar Berkata :

"BICARA ITU SEPERTI OBAT,

Jika kadarnya SESUAI mendatangkan manfaat

Namun jika BERLEBIHAN malah bisa MEMBUNUH"_


3.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا ومن كفَّ غضبَه ستر اللهُ عورتَه ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ اللهُ قلبَه رجاءَ يومِ القيامةِ ومن مشى مع أخيه في حاجةٍ حتى تتهيأَ له أثبت اللهُ قدمَه يومَ تزولُ الأقدامُ


“manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan ke hati seorang mukmin, atau engkau hilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada ber-i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan lamanya. Dan siapa yang menahan marahnya maka Allah akan tutupi auratnya. Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia bisa menumpahkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka” (HR. Ath Thabrani 6/139, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah 2/575).


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami' no:3289).


》Seorang muslim Dia adalah orang yang bertakwa kepada Allahﷻ  Bertakwa Adalah dia menunaikan Hak Allahﷻ Hak dirinya dan Hak Makhluk yang ada di sekitarnya 

_Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang melakukan sebab yang terbesar demi memperoleh kecintaan tuhan Nya," Allahﷻ, yang mana hakikatnya adalah menjalankan perkara yang dapat melindungi diri dari kemurkaan Allahﷻ dan azabNya dengan cara mengerjakan perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya.


ciri orang-orang yang bertakwa tersebut, yaitu memiliki keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan batin serta amalan-amalan lahir, karena ketakwaan memang mencakup semua itu seraya berfirman,

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ "

Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib. yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka"(QS. Al-Baqarah: 3)


》Bermanfaat bagi manusia yang sesuai dengan ketentuan Syari'at, Tidak mengorbankan Tauhid&Aqidah 

Karna Islam memiliki batasan dalam membantu 


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُحِلُّوا۟ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ وَلَا ٱلشَّهْرَ ٱلْحَرَامَ وَلَا ٱلْهَدْىَ وَلَا ٱلْقَلَٰٓئِدَ وَلَآ ءَآمِّينَ ٱلْبَيْتَ ٱلْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّن رَّبِّهِمْ وَرِضْوَٰنًاۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَٱصْطَادُوا۟ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ أَن تَعْتَدُواۘ وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ 

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalāid (hewan-hewan kurban yang diberi tanda),dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian (mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.


(Al-Ma`idah:2)


وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِۚ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan


JADILAH KAMU MUSLIM YANG BERMANFAAT BAGI 

MANUSIA DENGAN MEMPERHATIKAN BATASAN BATASANNYA TIDAK MENGORBANKAN SYARI'AT AGAMA MU


#Ushulussunnah 

#Nasehat

#Sifat&Sikap Mukmin

#12-januari-2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perhhatikan Niat mu Wahai penuntut Ilmu