Kisah Nabi Musa
بسم الله الرحمن الرحيم
Pembahasan tentang kisah kisah yang Allah sebutkan di dalam Al-Quran, merupakan perkara yang penting dan di antara metode berdakwah adalah menyampaikan kisah kisah,
Kita dapati di dalam Al quran banyak kisah" Ini metode Allah dalam menyampaikan hujjah hujjah, pelajaran dan faedah faedah yang dapat diambil oleh manusia yang memiliki akal yang sehat
Orang cerdas adalah orang yang mau berfikir (untuk mengambil pelajaran dan faedah faedah dari kisah kisah) makanya hanya orang yang mau berfikir yang akan dapat mengambil faedah dari kisah kisah,
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS. Al A’raf: 176)
Ini menunjukkan orang yang bisa mendapatkan pelajaran dari kisah kisah yang allah sebutkan di dalam al quran hanyalah orang yang menggunakan akal nya untuk berfikir bagaimana dia bisa mengamalkan apa yang allah sampaikan, Ketahuilah bahwa fungsi Akal yang Allah berikan kepada kita adalah untuk menerima Syariat dan berfikir bagaimana kita bisa mengamalkannya bukan mengotak ngatik syariat.
●untuk menguatkan hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Huud: 120)
peneguhan hati dengan kisah Al Quran ini selain untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga untuk selain beliau. Betapa banyak para ulama dan orang-orang beriman memetik manfaat dari kisah para nabi dan yang lainnya. Betapa banyak kisah-kisah Quran tersebut menjadi penerang yang memberikan petunjuk kepada manusia.
● dalam kisah-kisah al Quran terdapat hikmah bagi orang-orang yang berfikir.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Yusuf: 111)
●mengambil hikmah dan pesan dari kondisi umat-umat sebelumnya. Jika mereka adalah orang-orang yang binasa, maka umat ini pun perlu diberitahu dan diminta waspada terhadap apa yang membuat umat-umat terdahulu binasa. Jika mereka termasuk orang-orang yang sukses, maka umat ini pun perlu mengambil pelajaran dengan meniti jejak kesuksesan mereka.
وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًاۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
100. Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
(At-Taubah:100)
>>>Tafsir Ayat:
As-Sabiqun adalah orang-orang yang mendahului umat ini kepada iman, hijrah, jihad, menegakkan Agama Allah
الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
"Yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan(Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hasyr: 8). (Muhajirin)
"Orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang-orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)." (QS. Al-Hasyr: 9). (Anshar)
وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ
Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik", dalam akidah, perkataan, dan perbuatan
mendapatkan pujian yang tinggi, dan kemuliaan terbaik dari Allah. "Allah ridha kepada mereka."
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُم وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ
●mengenal bagaimana kemampuan Allah memberikan berbagai macam hukuman kepada orang-orang yang menyimpang, sesuai dengan hikmah yang telah ditetapkanNya.
●mengenal penegakkan hujjah kepada manusia dengan diutusnya para Rasul, dan diturunkannya kitab-kitab. Mengenal bagaimana para umat terdahulu menghadapi Rosul mereka, apa yang terjadi ketika mereka ingkar kepada para Rasul dan apa yang terjadi ketika mereka menerima seruan para Rasul. Sebagaimana yang Allah firmankan setelah menceritakan sejumlah RasulNya:
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا
“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisaa: 164-165).
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
(Al-Kahf:104)
orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.
Allah menjelaskan orang yaling merugi tersebut dalam ayat ini yaitu orang yang sesat namun menyangka telah melakukan amalan yang terbaik. Ada orang yang bermaksiat dan dia tahu bahwasanya dia telah merugi ketika melakukan kemaksiatan. Namun ada orang yang ketika di dunia merasa dirinya adalah orang yang saleh dan ternyata dia adalah orang yang sesat, maka orang yang seperti ini orang yang paling merugi karena di dunia dia merasa benar dan merasa saleh ternyata di akhirat dia masuk neraka jahanam.
Ini juga dalil bahwasanya tidak semua orang yang sesat merasa dia telah sesat. Kita lihat orang-orang Nasrani yang jumlahnya lebih banyak dari umat Islam dan mereka merasa mereka benar dan merasa kita adalah orang yang sesat dan menganggap kita adalah domba-domba yang tersesat.
. Mereka yakin bahwasanya mereka akan masuk surga bahkan menyakini dosa mereka telah ditebus oleh nabi Isa, akan tetapi apakah keyakinan dan perasaan mereka benar membuat mereka selamat? Tidak sama sekali, justru mereka adalah orang yang paling merugi. Oleh karenanya banyak Ahli Tafsir mengatakan bahwa orang yang paling merugi adalah Yahudi dan Nasrani, mereka merasa bahwa diri mereka adalah orang yang paling hebat namun ternyata mereka adalah orang yang masuk ke dalam neraka jahanam. Orang Yahudi merasa dia adalah orang yang paling hebat dan merasa hanya dia lah yang masuk surga adapun yang lain tidak masuk surga. Begitu juga orang Nasrani yang merasa hanya mereka yang akan masuk surga karena mereka beriman kepada nabi Isa dan menganggap selainnya tidak ada jaminan keselamatan.
Jadi ada penghuni neraka jahanam yang merasa diri mereka di dunia adalah benar, dan ini sangat banyak di zaman sekarang. <br>
Seperti yang dijelaskan bahwa para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ahlu Kitab yaitu Yahudi dan Nasrani.
Lalu mereka berbeda pendapat tentang Ahlul Bid’ah seperti Khowarij, sebagian Ahlu Tafsir memasukkan Khowarij juga ke dalam ayat ini meskipun mereka tidak sampai kafir seperti Yahudi dan Nasrani. Karena Khowarij mereka mengaku beriman bahkan mereka mengkafirkan orang yang ada di luar kelompok mereka. Mereka adalah orang yang sangat banyak beribadah namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengatakan bahwa mereka adalah anjing-anjing neraka.
Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa orang-orang Khowarij tidak masuk ke dalam ayat ini karena ayat ini berkaitan dengan orang-orang kafir. Akan tetapi kita katakan bahwa kesalahan mereka sejenis dengan kesalahan Yahudi dan Nasrani yaitu sama-sama merasa benar ternyata mereka salah. Banyak sekali di zaman sekarang orang yang beribadah dengan akal dan perasaan dan mereka tidak mau beribadah dengan keinginan Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya. Mereka beribadah dengan cara sendiri kemudian mencari dalil untuk pembenaran ibadah mereka yang pada dasarnya ibadah tersebut hanya keinginan mereka sendiri. Adapun kita beribadah sesuai dengan kehendak Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya bukan kehendak pribadi.
Jadi inilah orang-orang yang paling merugi diantaranya adalah Yahudi dan Nasrani yang mereka merasa diri mereka benar namun ternyata mereka masuk neraka jahanam. Oleh karenanya Ibnu Katsir menyebutkan riwayat dari Umar bin Al-Khotthob dalam tafsir surah Al-Ghosyiyah ketika Umar melihat pendeta yang sudah tua maka Umar menangis, lalu ia ditanya: wahai Umar mengapa Anda menangis? Lalu dia menjawab: aku ingat firman Allah subhanahu wa ta'ala
عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً
bekerja keras lagi kepayahan,memasuki api yang sangat panas (neraka)”(QS. Al-Ghasyiyah: 3-4)
Mereka sudah bekerja berletih di dunia namun ternyata mereka masuk neraka jahanam. Seperti pendeta Nasrani yang sudah tua tersebut yang mereka tidak menikah, menjauhi kenikmatan dunia, dan mereka hanya di tempat ibadah mereka ternyata mereka masuk neraka jahanam. Hal ini yang membuat Umar sangat sedih melihat kondisi mereka.
NABI Musa ‘alaihis salam adalah nabi paling mulia di kalangan Bani Israil. Beliau bergelar kalimullah – orang yang diajak bicara langsung oleh Allah di dunia –. Dan beliau termasuk salah satu nabi ulul azmi. Dalam al-Quran, perjalanan beliau paling banyak disebutkan oleh Allah, setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
Sebagian yang menghitung, nama beliau disebutkan sebanyak 136 kali dalam al-Quran
Ketika kisah Musa banyak disebutkan dalam al-Quran, menunjukkan bahwa Allah menghendaki agar kita banyak merenungkan perjalanan hidupnya. Mengambil pelajaran tentang bagaimana ujian berat yang dialami Musa. Dari mulai menghadapi Firaun, hingga menghadapi Bani Israil yang keras kepala.
Ujian yang dialami Musa adalah ujian menjalani hidup di tengah masyarakat. Bukan ujian kemiskinan, ujian sakit, atau musibah bencana alam. Yang ujian ini, sangat mirip dengan apa yang akan dialami Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin yang menjadi umatnya.
Said bin Jubair pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, apa yang dimaksud futun (banyak ujian).
Lalu Ibnu Abbas membaca ayat-ayat yang menceritakan Musa dari awal. Beliau sebutkan kisah Firaun, upaya pembantaian yang dia lakukan terhadap bayi lelaki, kemudian kisah Musa dilempar di sungai dan ditemu oleh keluarga Firaun. Kemudian kisah Musa menarik jenggotnya firaun, hingga Musa diberi pilihan antara kurma dan bara. Termasuk kisah dia membunuh orang mesir, lalu dia lari ke Madyan dan menikah dengan salah satu putri orang tua di Madyan. Kemudian Musa kembali ke Mesir, dan beliau salah jalan di kegelapan malam, hingga beliau melihat api dan mendapat wahyu dari Allah.
Kata Ibnu Zubair,
Setelah Ibnu Abbas menyebutkan semuanya, dia mengatakan, “Inilah fitnah-fitnah itu wahai Ibnu Jubair.” (Tafsir Ibn Katsir, 5/285).
Imam Abu Abdurrahman an-Nasa-i rahimahullah dalam kitab at-Tafsir, pada kitab Sunannya, pada penafsiran firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
…. وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا …40
“….Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (futun)….”(QS. Thaha: 40)
Hadits futun (ujian) diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dia bercerita, aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengenai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
…. وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا …40
“….Dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (futun)….”(QS. Thaha: 40)
Lalu aku tanyakan kepadanya tentang futun:“Apa yang dimaksud dengan futun itu?” Dia berkta:“Datanglah pada siang hari (besok), wahai Ibnu Jubair karena sesungguhnya mengenai futun itu terdapat hadits cukup panjang.” Setelah pagi hari tiba, aku langsung berangkat ke tempat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma untuk menagih apa yang telah dia janjikan kepadaku tentang hadits futun. Dia bercerita:●1.“Fir’aun dan para pengikutnya sedang berbincang-bincang tentang apa yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim ‘alaihissalam, bahwa Dia akan menjadikan beberapa orang Nabi dan raja dari keturunannya. Lalu, sebagian dari mereka berkata:’Sesungguhnya, Bani Israil telah menantikan hal tersebut dan mereka tidak ragu sedikit pun. Mereka menduga bahwa yang dijanjikan-Nya adalah Yusuf bin Ya’qub ‘alaihissalam. Setelah Yusuf ‘alaihissalam meninggal mereka berkata: Bukan seperti yang dijanjikan kepada Ibrahim ‘alaihissalam.Maka, Fir’aun berkata: Lalu bagaimana menurut pendapat kalian? Kemudian, mereka berunding dan akhirnya sepakat untuk mengutus beberapa orang dengan membawa pisau, berkeliling mengitari Bani Israil, dan tidaklah mereka mendapati anak laki-laki melainkan akan dibunuhnya. Maka hal itu pun mereka lakukan. Setelah mereka melihat bahwa orang-orang tua Bani Israil mati karena ajal mereka, dan anak-anak kecil mereka dibunuh, mereka berkata: Sungguh kalian hampir saja membinasakan (menghabisi) Bani Israil, sehingga kalian akan mengambil alih pekerjaan dan penghambaan yang selama ini mereka kerjakan. Maka bunuhlah pada tahun ini seluruh bayi laki-laki yang lahir dan biarkanlah bayi perempuan, lalu biarkanlah (jangan dibunuh) satu bayi pun yang lahir pada tahun berikutnya, supaya bayi-bayi yang kecil itu menjadi dewasa dan menggantikan orang-orang tua yang sudah mati. Maka sesungguhnya jumlah mereka tidak akan menjadi banyak dengan jumlah mereka yang dibiarkan hidup, yang kalian takuti kalau jumlah mereka lebih banyak daripada jumlah kalian. Dan kalian tidak menghabisi (membuat punah) mereka dengan orang yang kalian bunuh padahal kalian membutuhkan mereka. Lalu mereka menyepakati hal tersebut.●2. Kemudian ibu Musa ‘alaihissalam mengandung (hamil) Harun ‘alaihissalam pada tahun dimana mereka tidak membunuh bayi yang lahir, sehingga ibu Musa ‘alaihissalam melahirkan Harun dengan terang-terangan dan aman. **Ketika di tahun berikutnya, dia mengandung Musa ‘alaihissalam, maka muncullah di hatinya kegundahan dan kesedihan. Dan itu termasuk futun –wahai Ibnu Jubair- yang menimpanya (Musa) ketika beliau masih berada diperut ibunya.** Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan (mengilhamkan) kepada ibu Musa ‘alaihissalam agar tidak takut dan bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan kami menjadikanya sebagai salah seorang rasul. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya agar memasukan bayinya ke dalam peti dan menghanyutkannya apabila telah lahir. Ketika melahirkan, dia mengerjakan hal itu. Ketika anaknya mulai menjauh darinya, datanglah kepadanya Syetan, lalu dia berkata dalam dirinya:’Apa yang telah aku lakukan wahai anakku, seandainya dia (Musa) dibunuh (disembelih) di hadapanku lalu aku menyelimutinya dan mengkafaninya lebih aku sukai daripada aku melemparkannya ke laut dan menjadi mangsa ikan.’
Air sungai terus membawanya hingga akhirnya tersangkut di sebuah lubang, tempat di mana para pelayan istri Fir’aun biasa mengambil air. Ketika melihat peti itu. Mereka pun mengambilnya dan ingin segera membukanya. Lalu sebagian dari pelayan itu berkata:’Sesungguhnya, di dalam peti itu terdapat harta, jika kita membukanya, niscaya istri raja tidak akan mempercayai kita tentang isi yang kita dapatkan di dalamnya. Mereka pun membawanya dalam keadaan utuh dan tidak mengeluarkan sedikit pun apa yang terdapat dalam peti itu hingga akhirnya mereka menyerahkan peti itu kepada istri Fir’aun. Ketika membukanya, istri Fir’aun mendapati bayi berada di dalamnya . Kemudian, Allah menanamkan kecintaan pada dirinya terhadap bayi tersebut yang belum pernah diberikan kepada seorang pun.
وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَى فَارِغًا…10
“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa….”(QS. Al-Qashash: 10)
**Maksudnya, tidak mengingat sesuatu pun kecuali Musa ‘alaihissalam.3.Ketika orang-orang yang bertugas menyembelih bayi mendengar berita itu, maka dengan membawa pisau mereka berangkat ke tempat istri Fir’aun untuk membunuh bayi yang ditemukan itu. Yang demikian itu termasuk bagian dari futun-, wahai Ibnu Jubair.**
Istri Fir’aun berkata kepada mereka:“Biarkan saja dia, karena dia hanyalah seorang anak yang tidak akan menambah populasi Bani Israil. Dan, aku akan datang kepada Fir’aun untuk meminta agar anak ini dibiarkan tetap hidup. Jika dia menghadiahkan anak itu kepadaku, berarti kalian telah berbuat baik, dan jika dia menyuruh membunuhnya aku tidak akan mencela kalian.”Dia pun berangkat menemui Fir’aun seraya berkata:
… قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ …9
“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu….”(QS. Al-Qashash: 9)
Fir’aun berkata:“Itu bagimu, tetapi bagiku bukan, karena aku tidak membutuhkannya.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Demi Rabb yang disebut untuk sumpah, seandainya Fir’aun merasa senang hatinya dengan kehadiran Musa ‘alaihissalam seperti yang dirasakan oleh istrinya, berarti Allah telah memberinya petunjuk sebagaimana Dia telah memberikan petunjuk kepada istrinya. Tetapi Dia telah mengharamkan hal tersebut untuknya.”
Kemudian, istri Fir’aun mengirimkan utusan kepada beberapa orang wanita yang ada di sekitarnya untuk mencari orang yang mau menyusuinya. Tetapi setiap kali ada wanita yang menggendongnya untuk disusui, bayi itu menolak, sehingga istri Fir’aun merasa kasihan padanya sekaligus khawatir jika terus menolak (menyusu), dia akan mati. Maka hal itu benar-benar membuatnya bersedih, kemudian dia memerintahkan orang untuk membawanya pergi ke pasar dan ke tempat-tempat di mana banyak manusia berkumpul dengan harapan akan menemukan wanita yang bisa menyusuinya. Tetapi, setiap kali ada wanita yang menggendong dan mencoba menyusuinya, bayi itu menolak.
Keesokan harinya ibunda Musa ‘alaihissalam menjadi resah hatinya, dan dia berkata kepada saudara perempuan Musa ‘alaihissalam:“Ikutilah jejaknya dan carilah keberadaannya, siapa tahu kamu nanti akan mendengar berita tentangnya. Apakah anakku itu masih hidup apa sudah dimakan binatang?” Dia lupa tentang apa yang telah dijanjikan Allah mengenai anaknya tersebut. Lalu saudara perempuannya itu melihat dari tempat yang agak jauh tanpa mereka sadari. Dengan penuh rasa gembira ketika mereka tengah mencari wanita yang bisa menyusui bayi tersebut, dia berkata:” Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”
Maka mereka langsung mendekatinya seraya berkata:“Apa yang kamu tahu? Apakah mereka benar-benar akan berbuat baik kepadanya? Dan apakah mereka sudah mengenalnya?” Mereka merasa ragu mengenai hal itu
wanita itu berkata kepada mereka:“Mereka benar-benar akan berbuat baik kepadanya dan menyayanginya, karena mereka ingin berbuat baik untuk sang raja sekaligus berharap bisa memberikan yang terbaik.” Kemudian mereka menyerahkan bayi itu kepadanya, lalu dia pun membawa bayi itu kepada ibu kandungnya. Selanjutnya, wanita itu memberitahu ibu kandungnya, hingga akhirnya ibu kandungnya itu datang. Ketika meletakkan dalam gendongannya, bayi itu langsung mengarah ke teteknya dan segera mengisapnya sampai akhirnya benar-benar kenyang.
Kemudian utusan itu pun datang lagi menghadap isteri Fir’aun untuk memberitahukan kepadanya:“Kami telah mendapatkan ibu yang bisa menyusui anak Anda.”
Maka isteri Fir’aun pun langsung mengirim utusan untuk menjemput wanita yang dimaksud dengan membawa anaknya. Setelah dia melihat sendiri perilaku bayi itu pada wanita tersebut, isteri Fir’aun berkata:“Tinggallah kamu di sini untuk menyusui anakku ini, karena sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang lebih aku cintai melebihi anak ini.” Ibunda Musa ‘alaihissalam berkata:“Saya tidak bisa meninggalkan rumah dan membiarkan anak-anak saya telantar. Jika engkau berkenan memberikan anak ini kepadaku, niscaya saya akan pergi membawanya ke rumah saya, dan dia akan baik-baik saja. Sesungguhnya, saya tidak pernah meninggalkan rumah dan anak-anak saya.” Lalu, ibunda Musa ‘alaihissalam ingat apa yang dijanjikan oleh Allah kepadanya. Dan dia mengajukan keberatan kepada isteri Fir’aun atas tawarannya tersebut. Dia yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan merealisasikan janjinya.
Lalu ibunda Musa ‘alaihissalam pulang ke rumahnya. Allah menumbuhkan Musa ‘alaihissalam dengan baik serta memeliharanya dengan baik pula. Dan Bani Israil yang tinggal di sudut desa, masih terus berupaya mencegah tindakan sewenang-wenang dan kezhaliman yang mereka alami.
Sesudah agak besar, isteri Fir’aun berkata kepada ibunda Musa ‘alaihissalam:“Bawalah ia mengunjungiku.”Maka dia berjanji suatu hari dia akan mengunjunginya dengan membawa anaknya itu. Kemudian isteri Fir’aun berkata kepada para penjaga, pelayan, dan pekerjanya:“Tidak seorang pun dari kalian melainkan harus menyambut kedatangan puteraku hari ini dengan mempersembahkan hadiah dan penghormatan, supaya aku dapat menyaksikan hal itu ada pada dirinya. Semua hadiah, penghormatan dan pemberian telah disiapkan sejak Musa ‘alaihissalam keluar rumah ibu kandungnya sampai akhirnya masuk menemui isteri Fir’aun. Setelah anak itu masuk menemuinya, isteri Fir’aun menyambut dan memuliakannya serta merasa sangat gembira karenanya. Isteri Fir’aun juga memberikan hadiah kepada ibu anak itu karena ia telah mendidik dan membesarkannya dengan baik. Selanjutnya, dia berkata:”Aku akan membawanya menghadap Fir’aun agar dia memberi hadiah dan pemberian kepadanya.”
●4.**Setelah dia membawa masuk anak itu menemui Fir’aun, Fir’aun pun membawanya ke kamarnya, lalu Musa ‘alaihissalam memegang janggut dan menariknya ka tanah. Maka orang-orang jahat dari musuh-musuh Allah berkata kepada Fir’aun:“Tidakkah baginda ingat apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Ibrahim? Sesungguhnya, bisa jadi anak ini akan mewarisi, mengungguli, dan menentang baginda. Karenanya, kirimkan saja ia kepada algojo untuk disembelih.”Yang demikian itu termasuk bagian dari futun, wahai Ibnu Jubair.**
Setelah beberapa ujian hendak ditimpakan kepadanya, isteri Fir’aun datang kepada Fir’aun dengan tergesa-gesa seraya berucap:“Bagaimana pendapatmu tentang anak laki-laki yang engkau berikan kepadaku ini?” Fir’aun menjawab:“Tidakkah engkau tahu bahwa bahwa dia bisa saja melawanku dan mengungguliku?” Isterinya berkata:“Adakan suatu hal antara diriku dan dirimu, untuk mengetahui yang benar mengenai hal tersebut. Siapkanlah dua bara api dan dua mutiara lalu dekatkan kepadanya. Jika dia menyentuh mutiara dan menjauhi bara api, maka kamu bisa mengetahui bahwa dia seorang anak yang cerdas. Jika dia mengambil bara api dan menolak mutiara, maka engkau mengetahui bahwasanya seseorang tidak akan mengutamakan bara api atas mutiara, bila dia seorang yang berakal.”
Kemudian dia menyodorkan dua bara api dan dua mutiara, lalu Musa ‘alaihissalam menyentuh dua bara api dan dia menjauhinya karena takut tangannya akan terbakar. Maka isterinya berkata:“Tidakkah engkau melihatnya sendiri?” Dan, Allah Subhanahu wa Ta’ala memalingkan dirinya dari Fir’aun.
Musa ‘alaihissalam pun tumbuh dewasa dan tampil sebagai seorang laki-laki yang gagah, tanpa ada seorang pun dari pengikut Fir’aun yang berbuat kasar dan zhalim kepada Bani Israil melainkan mereka akan menantang dan mencegahnya dengan sunguh-sungguh.
Ketika Musa ‘alaihissalam berjalan-jalan di sudut kota, tiba-tiba dia melihat dua orang laki-laki tengah berkelahi. Salah seorang di antaranya pengikut Fir’aun, sedang yang satu lagi adalah orang Bani Israil. Laki-laki Bani Israil ini meminta bantuan kepada Musa ‘alaihissalam untuk melawan pengikut Fir’aun tersebut. Dan Musa ‘alaihissalam pun benar-benar marah, sedang dia mengetahui kedudukan dirinya di kalangan Bani Israil dan upayanya untuk melindungi mereka. Orang-orang mengenal Musa ‘alaihissalam sebatas sebagai saudara sepersusuan, kecuali ibunda Musa ‘alaihissalam. Dan Allah memperlihatkan kepada Musa ‘alaihissalam mengenai hal yang tidak diperlihatkan kepada orang lain. Kemudian, Musa ‘alaihissalam memukul pengikut Fir’aun itu hingga mati, tanpa ada yang melihat keduanya kecuali hanya Allah dan Bani Israil tersebut. Setelah membunuh pengikut Fir’aun itu Musa ‘alaihissalam berkata:
… هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ . 15
“….Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).”(QS. Al-Qashash: 15)
Lebih lanjut, dia berkata:
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(16) قَالَ رَبِّ بِمَا أَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ أَكُونَ ظَهِيرًا لِلْمُجْرِمِينَ (17) فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا يَتَرَقَّبُ …(18)
“Musa berdo’a: “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: ” Ya Rabbku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”. Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya) ….”(QS. Al-Qashash: 16-18)
Kemudian orang itu dibawa menghadap Fir’aun dan dikatakan kepadanya:“Sesungguhnya orang-orang Bani Israil telah membunuh seseorang dari pengikut Fir’aun, karenanya, tuntutlah hak kita dan janganlah dikasih hati mereka itu.” Fir’aun berkata:“Cari pembunuhnya dan orang yang menyaksikan kejadian itu. Sesungguhnya seorang raja meskipun orang yang paling tinggi di tengah-tengah kaumnya, tetapi dia tidak boleh seenaknya saja membunuh tanpa adanya bukti dan keterangan yang jelas. Oleh karena itu, cari tahu hal itu untukku, dan aku akan berikan hukuman kepadanya sesuai dengan hak kalian.”
Setelah orang-orang Fir’aun berkeliling mencari bukti dan tidak menemukan satu bukti pun, tiba-tiba Musa ‘alaihissalam menyaksikan orang orang Israil yang pernah ditolongnya itu menyerang seorang dari pengikut Fir’aun lainnya, lalu dia meminta bantuan kepada Musa ‘alaihissalam untuk melawan pengikut Fir’aun tersebut. Musa ‘alaihissalam menolak dan menyesal atas apa yang pernah dia lakukan untuk orang itu dan bahkan dia membenci apa yang disaksikan tersebut. Orang Israil itu pun marah sedang dia ingin menyerang pengikut Fir’aun. Lalu, Musa berkata kepada orang Israil tentang apa yang dia lakukan kemarin dan hari ini:
….إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ (18)
“…Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya) .”(QS. Al-Qashash: 18)
Maka, si Israil itu melihat ke arah Musa ‘alaihissalam setelah melontarkan kata-katanya tadi. Dan, ternyata Musa ‘alaihissalam benar-benar marah seperti marahnya hari kemarin yang karena marahnya itu pengikut Fir’aun mati. Orang Israil itu pun takut setelah (Musa) mengatakan:
… إِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُبِينٌ(18)
“…Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya) .”(QS. Al-Qashash: 18)
Musa akan menyerangnya, padahal bukan dia yang dituju, tetapi yang hendak dituju adalah pengikut Fir’aun. Sehingga orang Israil itu takut dan berkata:
…. يَا مُوسَى أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالأمْسِ … (19)
“……Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? ….”(QS. Al-Qashash: 19)
Hal itu dia katakan karena dia takut Musa ‘alaihissalam akan menyerang dan membunuhnya. Kemudian pengikut Fir’aun itu pergi dan memberitahu mereka tentang apa yang dia dengar dari orang Israil itu ketika dia mengatakan:
…. أَتُرِيدُ أَنْ تَقْتُلَنِي كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًا بِالأمْسِ … (19)
“……ِِِApakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? ….”(QS. Al-Qashash: 19)
**
●5.Fir’aun pun mengutus para algojo untuk membunuh Musa ‘alaihissalam. Kemudian utusan Fir’aun itu segera mengambil tindakan untuk mencari Musa ‘alaihissalam tanpa khawatir ia akan lari. Kemudian ada seseorang dari golongan Musa ‘alaihissalam datang dari ujung kota. Lalu, dia mengambil jalan pintas sehingga berhasil mendahului mereka sampai kepada Musa ‘alaihissalam. lalu dia memberitahu Musa ‘alaihissalam. Yang demikian itu merupakan bagian dari furun, wahai Ibnu Jubair.
**
Selanjutnya Musa ‘alaihissalam bergegas pergi menuju ke Madyan. Dia belum pernah sebelumnya mendapatkan cobaan seperti itu, sedang dia juga tidak mengetahui jalan melainkan hanya berdasarkan husnu zhan (prasangka baik) kepada Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala. Dia berdo’a:
… قَالَ عَسَى رَبِّي أَنْ يَهْدِيَنِي سَوَاءَ السَّبِيلِ(22) وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِنْ دُونِهِمُ امْرَأتَيْنِ تَذُودَانِ …(23)
“…… Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): “Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar’. Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). ….”(QS. Al-Qashash: 22-23)
Maksudnya, dua orang wanita yang sedang menghalang-halangi kambing mereka. Kemudian Musa ‘alaihissalam berkata kepada mereka:
… قَالَ مَا خَطْبُكُمَا … (23)
“…… Apakah maksud kalian berdua(dengan berbuat begitu)?….”(QS. Al-Qashash: 23)
Yakni, mereka berusaha memisahkan diri, dan tidak berbaur dengan orang-orang untuk memberi minum ternaknya. Kedua wanita itu berkata:“Kami tidak ada daya untuk berdesak-desakan dengan orang-orang itu. Dan di sini kami menunggu sisa-sisa air minum ternak mereka.” Maka Musa ‘alaihissalam mengambilkan air untuk mereka berdua dengan menimbanya sehingga dia berhasil membawa air yang cukup banyak sampai ternaknya benar-benar kenyang. Kemudian keduanya pulang dengan membawa ternaknya, sedang Musa ‘alaihissalam kembali dan berteduh di bawah sebatang pohon, seraya berdo’a:
فَسَقَى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّى إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ(24)
“…… Ya Rabbku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”(QS. Al-Qashash: 24)
Ayah kedua wanita itu merasa heran karena mereka datang begitu cepat dengan membawa ternaknya dalam keadaan kenyang dari minuman dan makanan. Lalu ayahnya berkata:“Sesungguhnya hari ini kalian tidak seperti sebelumnya.” Keduanya lantas memberitahu ayahnya apa yang telah dilakukan Musa ‘alaihissalam untuk mereka berdua. Selanjutnya, ayahnya meyuruh salah seorang puterinya untuk memanggil Musa ‘alaihissalam. Lalu dia mendatangi Musa dan mengundangnya datang ke rumah. Ketika mengajaknya berbicara ayah wanita itu berkata:
… لا تَخَفْ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ(25)
“…… Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zhalim itu.”(QS. Al-Qashash: 25)
Fir’aun dan para pengikutnya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap kita, dan kita tidak berada di wilayahnya. Kemudian salah seorang dari kedua puterinya berkata:
… يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأمِينُ (26)
“…… Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.”(QS. Al-Qashash: 26)
Karena ayahnya merasa sedikit curiga seraya berkata kepadanya:“Apakah kamu ketahui tentang kekuatan dan kejujurannya?” Puterinya itu berkata:“Adapun kekuatannya, ketika mengambilkan air minum untuk ternak. Sedangkan ke-amanahan-nya, maka pertama dia melihatku pada saat aku menemuinya, dan ketika mengetahui bahwa aku seorang wanita, maka dia memalingkan kepalanya dan tidak mengangkatnya sampai aku menyampaikan undanganmu kepadanya. Selanjutnya, dia berkata:’berjalanlah di belakangku dan tunjukkan kepadaku arah jalan.’ Dia tidak melakukan hal tersebut kecuali karena dia seorang yang amanah/dapat dipercaya.” Maka ayahnya merasa senang dan membenarkan puterinya.
Kemudian, ayahnya (Orang sholeh) berkata kepada Musa ‘alaihissalam:
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَى أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ فَإِنْ أَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَ وَمَا أُرِيدُ أَنْ أَشُقَّ عَلَيْكَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (27)
“Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik.”(QS. Al-Qashash:27)
Musa ‘alaihissalam pun menyetujuinya, dan untuk itu, Musa ‘alaihissalam mempunyai kewajiban yang harus ditunaikannya selama delapan tahun. Sedangkan dua tahun sesudahnya adalah penyempurnaan darinya, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyempurnakan masa itu, sehingga lengkap menjadi sepuluh tahun
Sa’id bin Jubair rahimahullah berkata:“Ada seseorang tokoh Nashrani menjumpaiku dan bertanya:’Apakah kamu tahu, manakah dari dua batas waktu yang dipenuhi Musa oleh ‘alaihissalam?’Aku menjawab:’Tidak’. Pada hari itu aku tidak tahu. Kemudian aku menjumpai Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dan aku ceritakan hal tersebut kepadanya, maka dia berkata:’Tidakkah kamu mengetahui, bahwa yang delapan tahun itu adalah wajib bagi Musa ‘alaihissalam, dan nabi Musa ‘alaihissalam tidak akan menguranginya sedikit pun. Sedangkan kamu sendiri tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memenuhi waktu tambahan kepada Musa ‘alaihissalam seperti yang dijanjikan-Nya. *Sesungguhnya dia telah memenuhi sepuluh tahun* .’ Setelah itu, aku mendatangi orang Nashrani itu dan memberitahukan hal tersebut kepadanya, maka dia berkata:’Apakah orang yang engkau Tanya mengenai hal tersebut lebih tahu tentang hal itu daripada dirimu?’Dia menjawab:’Ya, dan bahkan lebih.'”
Ketika Musa ‘alaihissalam berjalan dengan keluarganya, terjadi peristiwa yang berkenaan dengan api, tongkat, dan tangannya, yang sudah diceritakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an. Kemudian Musa ‘alaihissalam mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas rasa takutnya terhadap pengikut Fir’aun yang menuntut kematian pengikutnya, juga kesulitan lidahnya untuk berbicara, karena pada lidahnya terdapat satu kendala yang menghalanginya untuk bisa berbicara banyak. Dan dia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membantu dirinya dengan mengangkat saudara kandungnya, Harun ‘alaihissalam, yang akan menjadi pembantu baginya untuk menyampaikan berbagai hal yang dia sendiri kurang lancar menyampaikannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengabulkan permintannya, serta melancarkan lidahnya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi wahyu kepada Harun ‘alaihissalam, lalu Dia menyuruh Musa ‘alaihissalam untuk menemuinya.
Musa ‘alaihissalam berjalan dengan membawa tongkatnya sampai akhirnya menjumpai Harun ‘alaihissalam. Kemudian, keduanya berangkat menemui Fir’aun. Lalu, Fir’aun menyuruh keduanya menunggu di depan pintu dan tidak mengizinkan keduanya masuk. Setelah menahan keduanya secara ketat, Fir’aun memberi izin. Maka keduanya berkata:
فَأْتِيَاهُ فَقُولا إِنَّا رَسُولا رَبِّكَ …(47)
“…. Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabbmu…”(QS. Thaahaa: 47)
قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى(49)
“Berkata Firaun:’Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?”(QS. Thaahaa: 49)
Lalu keduanya memberitahu Fir’aun seperti yang telah dikisahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur’an.
Lebih lanjut, Fir’aun berkata:“Lantas apa mau kalian?” Dia menjawab:“Aku ingin agar kamu beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengirimkan Bani Israil bersamaku.” Maka Fir’aun menolak seraya berucap:
مَا أَنْتَ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا فَأْتِ بِآيَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ(154)
“Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar.”(QS. Asy-Syu’araa’: 154)
Musa ‘alaihissalam pun melemparkan tongkatnya dan ternyata tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat besar dengan mulut lebar dan berlari cepat ke arah Fir’aun. Ketika Fir’aun melihat ular tersebut berlari ke arahnya, maka dia merasa takut dan membuatnya lari dari singgasananya sambil meminta pertolongan kepada Musa ‘alaihissalam agar dia menghentikan ular tersebut. Maka Musa ‘alaihissalam pun memenuhinya. Setelah itu, Musa ‘alaihissalam mengeluarkan tangannya dari sakunya, lalu dia melihatnya putih tanpa cacat sedikitpun, maksudnya, tanpa penyakit kusta. Kemudian dia memasukannya kembali dan tangannya pun berubah kembali ke warnanya semula.
Setelah itu, Fir’aun meminta pendapat kepada para pembesar di sekitarnya mengenai apa yang dia saksikan itu, maka mereka berkata kepadanya:
قَالُوا إِنْ هَذَانِ لَسَاحِرَانِ يُرِيدَانِ أَنْ يُخْرِجَاكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيقَتِكُمُ الْمُثْلَى
“Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.”(QS. Thaahaa: 63)
Mereka menolak memberi sedikit pun dari apa yang diminta oleh keduanya. Mereka berkata kepadanya:“Kumpulkan saja tukang sihir, karena di wilayahmu ini terdapat banyak tukang sihir, sehingga sihirmu akan dapat mengalahkannya.”
Kemudian, Fir’aun mengirimkan utusan ke berbagai kota untuk mengumpulkan seluruh tukang sihir yang handal. Setelah semua tukang sihir itu datang kepada Fir’aun mereka berkata:“Apa yang telah dilakukan oleh si tukang sihir itu?”” Dia melancarkan sihir dengan banyak ular,” Jawabnya. Mereka berkata:“Demi Allah, tidak ada seorang pun di muka bumi ini yang bisa bermain sihir dengan menggunakan ular, tali dan tongkat seperti yang biasa kami lakukan. Lalu apa bayaran bagi kami jika kami berhasil mengalahkannya?”Fir’aun menjawab:“Kalian akan menjadi orang-orang dekat dan kepercayaanku. Dan aku akan memberikan segala sesuatu yang kalian sukai.” Kemudian mereka membuat janji:
…..يَوْمُ الزِّينَةِ وَأَنْ يُحْشَرَ النَّاسُ ضُحًى (59)
“…Pada hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia pada waktu matahari sepenggalah naik.”(QS. Thaahaa: 59)
Sa’id rahimahullah bercerita, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberitahuku bahwa hari raya yang dimaksud adalah hari di mana Allah Subhanahu wa Ta’ala memenangkan Musa ‘alaihissalam atas Fir’aun dan para tukang sihir itu, yaitu hari ‘Asyura’.
Setelah mereka berada dalam barisan, sebagian orang saling berkata kepada sebagian lainnya, mari berangkat untuk menyaksikan tontonan ini.
لَعَلَّنَا نَتَّبِعُ السَّحَرَةَ إِنْ كَانُوا هُمُ الْغَالِبِينَ
“Semoga kita mengikuti ahli-ahli sihir jika mereka adalah orang-orang yang menang.”(QS. Asy-Syu’araa’: 40)
Yang mereka maksudkan adalah Musa ‘alaihissalam dan Harun ‘alaihissalam. Dan hal itu mereka katakan dalam rangka mencemooh keduanya. Tukang-tukang sihir itu berkata:
… إِمَّا أَنْ تُلْقِيَ وَإِمَّا أَنْ نَكُونَ نَحْنُ الْمُلْقِينَ(115)
“….Hai Musa, kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan melemparkan?”(QS. Al-A’raaf: 115)
Tetapi Musa ‘alaihissalam malah berkata:“Kalian dahulu saja yang melemparkan.”
فَأَلْقَوْا حِبَالَهُمْ وَعِصِيَّهُمْ وَقَالُوا بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ إِنَّا لَنَحْنُ الْغَالِبُونَ
“Lalu mereka melemparkan tali temali dan tongkat-tongkat mereka dan berkata: “Demi kekuasaan Firaun, sesungguhnya kami benar-benar akan menang.”(QS. Asy-Syu’araa’: 44)
Maka Musa ‘alaihissalam menyaksikan dari sihir mereka sesuatu yang membuat dirinya gentar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepadanya:
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ …(31)
“Dan lemparkanlah tongkatmu. …..”(QS. Al-Qashash: 31)
Ketika Musa ‘alaihissalam, melemparkan tongkatnya, tongkat itu berubah menjadi seekor ular yang besar yang menganga mulutnya. Maka tongkat-tongkat itu terbalut oleh tali-temali menyerupai tumpukkan kayu yang masuk ke mulut ular, sehingga tidak ada satu pun tongkat maupun tali tersisa melainkan ditelannya.
Setelah para tukang sihir itu menyaksikan peristiwa tersebut, mereka berkata:“Kalau seandainya hal ini adalah sihir, tidak akan sampai sihir kita pada tingkatan seperti ini, akan tetapi ini adalah mukjizat dari Allah. Kami beriman kepada Allah dan beriman dengan apa yang dibawanya, dan kami bertaubat kepada-Nya dari apa yang dahulu kami lakukan.”
Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala menghancurkan kedudukan (kekuatan) Fir’aun di tempat tersebut dan di hadapan para pengikutnya.
فوقع الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(118) فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ(119)
“Karena itu nyatalah yang benar dan batallah yang selalu mereka kerjakan. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. “(QS. Al-A’raaf: 118-119)
Pada saat itu, isteri Fir’aun tampak dengan pakaiannya seadanya, seraya berdo’a memohon agar Allah memenagkan Musa ‘alaihissalam atas Fir’aun dan para pengikutnya. Para pengikut Fir’aun yang melihatnya mengira bahwa dia mengenakan pakaian seadanya itu dalam rangka menaruh keprihatinan atas kekalahan Fir’aun, padahal sebenarnya dia berbuat seperti itu karena kesedihan dan harapannya agar Musa ‘alaihissalam menang.
Setelah Musa ‘alaihissalam menunggu lama janji-janji dusta Fir’aun dan setiap kali Musa datang dengan membawa tanda-tanda kekuasaan Alah, maka Fir’aun berjanji akan mengirimkan Bani Israil bersamanya. Jika waktu yang dijanjikan itu berlalu, maka Fir’aun pun mengingkari janjinya seraya berkata:“Apakah Rabbmu mampu melakukan yang selain ini?”**Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan kepada kaumnya angina topan, belalang, kutu, katak, dan darah sebagai tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat rinci. Karena semuanya itu, Fir’aun mengeluh kepada Musa ‘alaihissalam dan meminta agar dia menghentikan semua itu, dan Musa ‘alaihissalam menyetujui dengan imbalan dia harus melepaskan dia bersama Bani Israil. Setelah semuanya berhenti, Fir’aun menyalahi dan mengingkari janjinya.**
Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa ‘alaihissalam pergi bersama kaumnya. Maka Musa ‘alaihissalam pun pergi bersama mereka pada malam hari. Keesokan harinya, Fir’aun melihat mereka telah pergi, lalu Fir’aun mengirimkan utusan ke penjuru kota untuk mengejarnya, diikuti dengan bala tentaranya yang sangat banyak. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada laut:“Jika hamba-Ku, Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka terbelahlah menjadi dua belas belahan sehingga Musa dan kaumnya berhasil menyeberang. Kemudian menyatulah kembali dengan menghimpit Fir’aun dan para pengikutnya.”
Lalu, Musa ‘alaihissalam lupa untuk memukul laut dengan tongkatnya, dan sampailah dia di tepi laut, dan laut itu memiliki suara yang sangat keras karena takut kalau-kalau Musa memukulnya dengan tongkatnya sedangkan dia (laut) lalai sehingga akhirnya dia bermaksiat (tidak taat) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ketika kedua kelompok (Musa beserta pengikutnya dan Fir’aun beserta bala tentaranya) itu sudah dekat, pengikut Musa ‘alaihissalam berkata:
“…Sesunguhnya kita benar-benar akan tersusul.”(QS. Asy-Syua’araa’: 61)
Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Rabbmu, karena sesungguhnya Dia tidak akan berdusta dan engkau sendiri tidak berdusta.Musa ‘alaihissalam berkata:“Rabbku telah berjanji kepadaku, jika aku sudah sampai di laut, maka laut itu akan terbelah menjadi dua belas bagian sehingga aku bisa menyeberanginya”. Setelah itu, dia ingat masalah tongkat,lalu ia memukul lautan dengan tongkatnya pada saat pasukan Fir’aun yang terdepan sudah dekat dengan pasukan Musa ‘alaihissalam yang paling belakang. Maka, lautan itu terbelah seperti yang telah diperintahkan Rabbnya, serta yang telah dijanjikan kepada Musa ‘alaihissalam. Setelah Musa ‘alaihissalam dan para sahabatnya secara keseluruhan berhasil menyeberangi lautan, Fir’aun dan para pengikutnya pun memasuki lautan, maka lautan menyatu kembali seperti yang diperintahkan. Kemudian, setelah Musa ‘alaihissalam berhasil menyeberangi lautan, sahabat-sahabatnya berkata:“Sesungguhnya, kami khawatir Fir’aun tidak tenggelam dan kita belum yakin akan kebinasaannya.” Maka Musa ‘alaihissalam memohon kepada Rabbnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan jasad Fir’aun (dari laut) sehingga mereka benar-benar meyakini kebinasaannya.
Setelah itu, mereka berjalan melewati suatu kaum yang menyembah berhala-berhala mereka, maka Bani Israil berkata:
… يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ(138) إِنَّ هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(139)
“…Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.”(QS. Al-A’raaf: 138-139)
Kalian telah mendapatkan berbagai macam pelajaran dan mendengar apa yang sebenarnya sudah cukup bagi kalian. Kemudian dia terus berlalu hingga akhirnya Musa ‘alaihissalam menempatkan mereka pada suatu tempat seraya berkata:“Taatilah Harun, karena sesungguhnya aku telah mengangkatnya sebagai penggantiku ditengah-tengah kalian, sementara aku akan menghadap Rabbku. “ Dan dia (Musa ‘alaihissalam) memberi batas waktu selama tiga puluh hari dan dalam selang waktu tersebut dia akan kembali kepada mereka.
Musa ‘alaihissalam mendatangi Rabbnya dan hendak berbicara dengan-Nya selama tiga puluh hari dengan berpuasa pada malam dan siangnya. Karena Musa ‘alaihissalam tidak ingin berbicara dengan Allah dalam keadaan mulut yang berbau tidak sedap karena sedang puasa, Musa ‘alaihissalam pun mengambil sedikit dari tumbuh-tumbuhan lalu mengunyahnya. Ketika dia datang kepada Rabbnya, Rabbnya berkata kepadanya:“Mengapa kamu berbuka?” –padahal Allah lebih mengetahui apa yang terjadi-.Musa ‘alaihissalam menjawab:“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku tidak ingin berbicara dengan-Mu kecuali mulutku berbau segar.”. Dia berfirman:“Tidakkah kamu mengetahui, hai Musa bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi bagi-Ku daripada bau minyak kasturi. Kembalilah kamu dan berpuasalah sepuluh hari lagi setelah itu datanglah kepada-Ku.” Kemudian Musa ‘alaihissalam pun mengerjakan apa yang diperintahkan Rabbnya kepadanya.
》Kisah dalam Hadits futun (ujian) diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, dia bercerita, aku pernah bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma《
__Kisah nya Akan di lengkapi lagi dengan Al-quran dan Hadits-hadits yang lain Nya__
نَتْلُوا۟ عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِٱلْحَقِّ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ { ٣ }
■Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan sebenarnya untuk orang-orang yang beriman."
>>"untuk orang-orang yang beriman."
Kepada merekalah pembicaraan ini diarahkan, karena mereka memiliki iman yang dengannya mereka bisa berkonsentrasi untuk menghayatinya dan menghadapinya dengan menerima dan menjadikan pelajaran untuk kehidupan nya atau pedoman, dan dengannya mereka bertambah iman, keyakinan dan kebaikan
Adapun orang-orang selain mereka, maka sama sekali tidak mengambil faidah darinya kecuali penegakan hujjah terhadap mereka. Allah memeliharanya dari mereka dan menjadikan dinding penghalang antara mereka dengannya sehingga membuat mereka tidak dapat memahaminya.
Firman Allah Ta'ala
Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar. (Al Qashash:3),
Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:
Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik. (Yusuf:3)
Maksudnya, Kami menceritakan kepadamu kisah tersebut sesuai dengan kejadiannya seakan-akan kamu menyaksikannya dan seakan-akan kamu menghadiri peristiwanya.
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ {٤}
■Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia (Fir'aun) termasuk orang yang berbuat kerusakan.
>>"*sewenang-wenang di muka bumi* "
Maksudnya, bersikap sombong, sewenang-wenang, dan melampaui batas.
"*dan menjadikan penduduknya berpecah belah* "
Yakni terbagi menjadi beberapa golongan, yang masing-masing golongan dia (Fir'aun) kuasai menurut apa yang dikehendakinya untuk memperkuat negeri yang diperintahnya.
"*Dengan menindas segolongan dari mereka*"
Yaitu menindas kaum Bani Israil, yang pada masa itu merupakan orang-orang yang terpilih di masanya
يَٰبَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ ٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتِىَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّى فَضَّلْتُكُمْ عَلَى ٱلْعَٰلَمِينَ
47. Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah aku berikan kepadamu, dan Aku telah melebihkan kamu dari semua umat yang lain di alam ini (pada masa itu) (Al-baqaroh 47 dan 122)
Mereka dikuasai oleh Raja Fir'aun yang sewenang wenang lagi pengingkar kebenaran.
Dia mempekerjakan mereka untuk pekerjaan yang kasar (rendah), memperbudak mereka sepanjang siang dan malam untuk bekerja padanya, juga pekerjaan rakyatnya. Selain dari itu Fir'aun membunuh anak-anak lelaki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka, sebagai penghinaan terhadap mereka, sekaligus untuk menangkal rasa takutnya terhadap mereka. Karena dikhawatirkan akan muncul seorang pemuda dari kalangan mereka yang akan menjadi penyebab kehancuran dirinya dan lenyapnya kerajaannya di tangan pemuda tersebut, seperti yang diramalkan oleh orang-orang yang dekat dengannya dari kalangan pembantu kerajaannya.
Orang-orang Qibti (Egypt) menerima berita tersebut dari kaum Bani Israil melalui apa yang mereka baca dan pelajari dari perkataan Nabi Ibrahim a.s. Yaitu di saat Nabi Ibrahim datang ke negeri Mesir, lalu terjadilah permasalahan antara dia dan rajanya, karena Raja Mesir itu menangkap Siti Sarah (istri Ibrahim) untuk dijadikan sebagai gundiknya. Akan tetapi, Allah memelihara Sarah dari gangguan si raja yang dzalim itu berkat kekuasaan dan pengaruh-Nya.
**Kemudian Nabi Ibrahim a.s. menyampaikan berita gembira, bahwa kelak akan dilahirkan dari keturunanNya seorang pemuda yang menjadi penyebab kehancuran negeri Mesir di tangannya. Lalu orang-orang Qibti menceritakan hal tersebut kepada raja mereka, Fir'aun. Maka Fir'aun menangkal hal tersebut dengan cara memberikan instruksi kepada semua bawahannya agar membunuh setiap bayi lelaki yang lahir di kalangan kaum Bani Israil.**
Akan tetapi, sikap hati-hati itu tiada manfaatnya untuk menghadapi takdir yang telah ditentukan, karena apabila takdir Allah telah datang, maka kedatangannya tidak dapat ditangguhkan lagi, dan bagi tiap-tiap sesuatu itu ada batasannya yang telah di tetapkan.
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ {٥}
■ Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)
Ini janji Allah Ta'ala kepada mereka, mereka akan mendapatkannya Allah Ta'ala berfirman :
*"dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka".* (Al A'raf:137)
*demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil* . (Asy Syu'ara:59)
ما شآء الله
BalasHapusMasyaAllah
BalasHapus